Suku Yamato 

Suku Yamato (Yamato-minzoku atau Tenson-minzoku) adalah kelompok etnis asli yang dominan di Jepang.

Ini adalah istilah yang mulai digunakan sejak akhir abad ke-19 untuk membedakan antara penduduk daratan Jepang dari kelompok-kelompok etnis minoritas lain yang telah tinggal di wilayah periferal Jepang, seperti suku-suku Ainu, Ryukyu, Nivkh, Ulta, serta juga orang-orang Korea, Taiwan, dan aborigin Taiwan yang masuk menjadi warga Kekaisaran Jepang pada awal abad ke-20.

Nama "Yamato" berasal dari Tahta Yamato yang ada di Jepang pada abad ke-4. Sebenarnya ia adalah nama daerah asal di mana orang-orang Yamato pertama kali menetap di Prefektur Nara.
Pada abad ke-6, suku Yamato sebagai salah satu dari banyak suku dari berbagai asal-usul yang pernah mengkolonisasi Jepang pada zaman prasejarah, mulai mendirikan negara dengan model negara-negara di Cina dari dinasti Sui dan Tang, yaitu pusat pengaruh politik Asia pada saat itu. Ketika pengaruh Yamato meluas, bahasa mereka menggantikan Bahasa Jepang Kuno dan menjadi bahasa umum yang dipakai secara luas. Sementara Bahasa Ryukyu dari Kepulauan Ryukyu, telah berpisah dari Bahasa Jepang Kuno antara abad ke-3 dan ke-5.

Terdapat kontroversi mengenai apakah akan memasukkan suku Ryukyu sebagai bagian dari Yamato, mengidentifikasi mereka sebagai kelompok etnis yang independen, atau sebagai sub-grup yang bersama-sama dengan Yamato merupakan etnisitas Jepang karena banyaknya kesamaan yang dekat di bidang genetika dan linguistik. Shinobu Origuchi (Origuchi Shinobu) berpendapat bahwa suku Ryukyu adalah "proto-Jepang" (gen nippon jin), sedangkan Yanagita Kunio memperkirakan bahwa mereka adalah sub-grup yang menetap di Kepulauan Ryukyu sementara gelombang migrasi utama bergerak ke utara untuk menetap di kepulauan Jepang dan menjadi suku Yamato.

Konsep keturunan murni sebagai kriteria untuk keunikan Yamato minzoku mulai diperbincangkan sekitar tahun 1880 di Jepang, yaitu sekitar waktu beberapa ilmuwan Jepang mulai mengadakan penyelidikan eugenika (yuuseigaku).

Sumber : wikipedia indonesia


[ add comment ] ( 19 views ) permalink ( 3 / 1082 )
Orang Korea di Jepang 

Orang Korea di Jepang adalah penduduk Jepang yang beretnis Korea. Saat ini mereka merupakan kelompok etnis minoritas terbesar di Jepang. Mayoritas orang Korea di Jepang adalah orang Korea Zainichi, atau kadang disingkat Zainichi, yaitu penduduk permanen Jepang yang beretnis Korea. Sebutan Korea Zainichi hanya mengacu kepada penduduk permanen jangka panjang di Jepang, yang tetap mempertahankan kebangsaan Joseon (negara Korea lama, sebelum terbagi) atau Korea Selatan mereka.

Kata Zainichi dalam bahasa Jepang berarti "tinggal di Jepang", namun istilah ini umumnya merujuk kepada orang Korea Zainichi, mengingat jumlah mereka yang signifikan dalam masyarakat Jepang. Warga negara Jepang keturunan Korea, orang Korea yang memperoleh naturalisasi kewarganegaraan Jepang (dimungkinkan setelah revisi undang-undang tahun 1985), serta warga negara biasa yang lahir di Jepang, tidak disebut Zainichi.

Berdasarkan statistik Biro Imigrasi Jepang terdapat 593.489 orang Korea di Jepang tahun 2007. Data ini tidak termasuk mereka yang telah mengambil kewarganegaraan Jepang.
Sebelumnya pada tahun 2005, terdapat 515.570 orang Korea dengan status penduduk tetap (permanent resident) berkategori umum dan khusus, 284.840 orang yang telah mengambil naturalisasi kewarganegaraan Jepang, 82.666 orang pengunjung jangka panjang, dan 18.208 orang pelajar Korea di Jepang, sehingga jumlah keseluruhannya mencapai 901.284 orang.

Sejarah
Keturunan Zainichi Korea saat ini dapat menyusuri jejak diaspora mereka sampai awal abad ke-20, yaitu ketika Korea berada di bawah pemerintahan Kekaisaran Jepang. Tahun 1910, sebagai akibat dari Perjanjian Aneksasi Jepang-Korea, semua orang Korea menjadi warga negara Kekaisaran Jepang. Gelombang migran secara terpaksa telah dimulai pada tahun 1920-an. Selama Perang Dunia II, terdapat sejumlah besar warga Korea yang diharuskan mengikuti wajib militer oleh Jepang. Gelombang migrasi juga terjadi sesaat setelah Korea Selatan hancur dalam Perang Korea pada 1950-an. Banyak pula pengungsi berdatangan setelah terjadinya tragedi pembunuhan masal di Pulau Jeju.

Statistik mengenai imigrasi Zainichi jarang ditemukan. Namun pada tahun 1988, suatu kelompok pemuda Mindan bernama Zainihon Daikan Minkoku Seinendan menerbitkan sebuah laporan yang berjudul "Ayah, ceritakan kepada kami tentang hari itu. Laporan untuk memperoleh kembali sejarah kita". Di dalam laporan itu terdapat survei mengenai alasan generasi pertama Korea berimigrasi. Hasilnya adalah 13,3% karena wajib militer, 39,6% karena alasan ekonomi, 17,3% karena perkawinan dan keluarga, 9,5% untuk belajar/urusan akademik, 20,2% karena alasan lain, dan 0,2% tidak diketahui. Survei mengecualikan orang-orang yang berusia di bawah 12 tahun ketika mereka tiba di Jepang.

Setelah melalui aktivisme bertahun-tahun, keberadaan Zainichi di Jepang saat ini telah mencapai kedudukan yang kokoh. Dukungan dari organisasi pemuda Mintohren, organisasi komunitas Zainichi (Mindan, Chongryon, dan lain-lain), kelompok minoritas lain (Ainu, Burakumin, Ryuukyuu, Uilta, Nivkhs, dan lain-lain), serta orang-orang Jepang yang bersimpati, telah berhasil meningkatkan iklim sosial bagi Zainichi di Jepang. Ada pula orang Korea yang tinggal di Jepang yang berusaha menampilkan diri sebagai orang Jepang untuk menghindari perlakuan diskriminatif. Sebagian besar kaum muda Zainichi sekarang hanya dapat berbicara dalam bahasa Jepang, bersekolah di sekolah-sekolah di Jepang, bekerja untuk perusahaan-perusahaan Jepang, dan semakin sering menikah dengan orang Jepang. Kebanyakan proses naturalisasi terjadi di kalangan pemuda, dan umumnya waktu naturalisasi mereka bertepatan dengan saat mereka mencari pekerjaan formal atau pernikahan. Mereka yang telah mencapai kehidupan yang mapan, kadang-kadang memilih untuk mempertahankan kebangsaan Joseon atau Korea Selatan mereka, dan menganggapnya sebagian warisan budaya mereka.


Tokoh Korea-Jepang terkenal
Akiko Wada, penyanyi dan bintang televisi
Jyongri, penyanyi dan pencipta lagu J-Pop
Masutatsu Ooyama, pencipta karate aliran Kyokushinkai
Verbal, rapper grup hip hop M-Flo

Sumber:Wikipedia Indonesia

[ add comment ] ( 16 views ) permalink ( 3 / 1246 )
Laut Jepang 

Laut Jepang atau Laut Timur adalah laut tepi di sebelah barat Samudra Pasifik yang mempunyai ombak sedikit karena dikelilingi oleh daratan.

Laut Jepang dikelilingi oleh daratan Rusia dan pulau Sakhalin di sebelah utara, Korea Utara dan Korea Selatan di sebelah barat, dan di sebelah timur oleh kepulauan Jepang yang terdiri dari pulau Hokkaido, Honshu dan Kyushu.

Laut Jepang dihubungkan dengan laut-laut di sekitarnya oleh 5 selat dangkal: Selat Tartary antara daratan Asia dan Sakhalin, Selat La Perouse antara pulau-pulau Sakhalin dan Hokkaido, Selat Tsugaru antara Hokkaido dan Honshu, Selat Kanmon antara pulau Honshu dan Kyushu, dan Selat Korea antara Semenanjung Korea dan pulau Kyushu. Selat Korea terdiri dari Kanal Barat dan Selat Tsushima yang ada di kedua belah sisi pulau Tsushima.
Titik terdalam: 3.742 meter dibawah permukaan laut
Kedalaman rata-rata: 1.752 meter
Luas permukaan: sekitar 978.000 km

Laut Jepang memiliki 3 palung utama: Palung Yamato di sebelah tenggara, Palung Jepang di sebelah timur, dan Palung Ulleung di sebelah barat daya. Titik terdalam Laut Jepang terletak di Palung Jepang, sedangkan titik terdangkal terletak di Palung Tsushima.
Arus hangat Tsushima, cabang dari Arus Kuroshio, mengalir ke arah utara menuju Selat Korea sepanjang garis pantai Jepang. Arus dingin Liman mengalir ke selatan melalui Selat Tartary sepanjang garis pantai Rusia.

Laut Jepang merupakan laut yang terkepung daratan ketika seluruh daratan Asia Timur masih bersatu
Daerah utara dan tenggara Laut Jepang kaya dengan hasil laut. Laut Jepang juga kemungkinan mempunyai deposit gas alam dan minyak bumi.
Walaupun Laut Jepang atau Sea of Japan adalah istilah yang umum digunakan di dunia internasional, Korea Utara dan Korea Selatan secara terus menerus mengusulkan nama baru sebagai pengganti nama Laut Jepang. Korea Selatan berpendapat Laut Jepang harus dinamakan Laut Timur (East Sea), sedangkan Korea Selatan menginginkan nama Laut Timur Korea (East Sea of Korea).


[ add comment ] ( 16 views ) permalink ( 2.9 / 1232 )
All Nippon Airways 

All Nippon Airways Co., Ltd. atau juga dikenal sebagai Zennikkuu atau ANA adalah maskapai penerbangan Jepang yang berkantor pusat di Shiodome City Center, kawasan Shiodome, Minato, Tokyo. ANA melayani 49 destinasi domestik, 35 rute internasional dan memiliki total pegawai 14.179 orang (data Mei 2009). Hub internasional ANA di Bandar Udara Internasional Narita dan Bandar Udara Internasional Kansai, sementara hub domestik di Bandar Udara Internasional Tokyo, Bandar Udara Internasional Osaka, Bandar Udara Internasional Centrair Chubu (dekat Nagoya), dan Bandar Udara New Chitose (dekat Sapporo).

Maskapai penerbangan anak perusahaan ANA adalah maskapai penerbangan regional Air Nippon, maskapai penerbangan carter Air Japan, dan maskapai penerbangan murah Air Next yang berbasis di Bandar Udara Fukuoka. Maskapai penerbangan kecil milik ANA terdiri dari Air Nippon Network (A-net, anak perusahaan Air Nippon), Air Central (maskapai penerbangan yang mengoperasikan Q400 di Bandar Udara Internasional Chuubu Centrair, dan ANA & JP Express (AJV), sebuah perusahaan kargo. ANA juga mengumumkan akan mendirikan setidaknya satu maskapai penerbangan bertarif rendah kerja sama dengan satu maskapai penerbangan Asia yang namanya belum disebutkan.

Pendirian
Salah satu maskapai penerbangan yang menjadi asal usul ANA adalah Nippon Helicopter and Aeroplane yang didirikan 27 Desember 1952. Singkatan untuk Nippon Helicopter adalah NH, dan nantinya NH dijadikan kode IATA untuk ANA.

Selain Nippon Helicopter and Aeroplane, maskapai penerbangan Far East Airlines juga merupakan maskapai pendahulu ANA. Walaupun didirikan 26 Desember 1952 (sehari sebelum NH), Far East Airlines (disingkat FEA) baru mulai beroperasi pada 20 Januari 1954 dengan penerbangan kargo malam antara Osaka dan Tokyo yang juga memakai satu pesawat de Havilland Dove. Far East Airlines mulai memakai DC-3 pada awal 1957 seiring dengan perluasan rute penerbangan hingga ke Kyushu bagian selatan, dari Tokyo hingga Kagoshima.
FEA merger dengan NH pada bulan Maret 1958. Kedua perusahaan setelah merger memiliki total kapitalisasi pasar 600 juta yen, dan merupakan maskapai penerbangan terbesar di Jepang.[7] Maskapai hasil merger diberi nama All Nippon Airways, sementara nama barunya dalam bahasa Jepang adalah Zen Nippon Kuuyu; arti harfiah: Transportasi Udara Jepang). Logo NH dipilih sebagai logo perusahaan hasil merger, dan maskapai penerbangan baru ini menerbangi rute-rute penerbangan yang sebelumnya dimiliki NH dan FEA.

Pada tahun 2007, Air Transport World memberi penghargaan "Airline of the Year" untuk ANA. ANA pada tahun 2006 diakui oleh FlightOnTime.info sebagai maskapai penerbangan berjadwal paling tepat waktu untuk rute LondonTokyo selama 4 tahun berturut-turut berdasarkan statistik resmi Britania Raya (gelar tersebut direbut Japan Airlines pada tahun 2007). Pada November 2009, ANA mengumumkan konsep penerbangan internasional "Inspiration of Japan" yang memperkenalkan desain kabin yang awalnya dirancang untuk pesawat 777-300ER.

[ add comment ] ( 31 views ) permalink ( 3 / 1115 )
Jembatan Akashi-Kaikyo 

Jembatan Akashi-Kaikyoo (Akashi Kaikyoo & Oohashi) adalah jembatan gantung (suspension bridge) di atas selat Akashi yang menghubungkan Maiko di kota Kobe dengan kota Awaji di pulau Awaji, Jepang. Jembatan tol Akashi-Kaikyoo terlihat indah di waktu malam dengan gemerlap lampu-lampu beraneka warna, sehingga jembatan ini juga dikenal dengan nama Pearl Bridge (jembatan mutiara). Jembatan ini panjangnya 1990 meter dan merupakan jembatan terpanjang di dunia.

Sebelum Jembatan Akashi-Kaikyoo dibangun, kapal feri merupakan satu-satunya sarana transportasi yang dipakai untuk menyeberangi derasnya selat Akashi. Di tahun 1955, terjadi tabrakan akibat cuaca buruk di Laut Pedalaman Seto antara 2 kapal feri dengan korban 168 tewas yang sebagian besar anak-anak sekolah yang sedang studi wisata. Kemarahan masyarakat mendorong pemerintah Jepang untuk mulai merancang jembatan-jembatan yang menghubungkan pulau-pulau di Laut Pedalaman Seto, termasuk di antaranya jembatan gantung di atas selat Akashi. Pada mulanya, Jembatan Akashi-Kaikyoo dirancang untuk dilewati kendaraan bermotor dan kereta api, tapi pada saat proyek pembangunan diumumkan pada bulan April 1986 ternyata jembatan hanya untuk dilewati kendaraan bermotor saja (semuanya ada 6 jalur). Pembangunan fisik dimulai tahun 1988 dan jembatan dibuka untuk umum pada tanggal 5 April 1998.

Jembatan terdiri dari 3 rentangan dengan panjang keseluruhan 3.911 meter. Panjang rentangan utama yang ada di tengah-tengah 1991 meter, sedangkan panjang 2 rentangan yang menuju ke darat, masing-masing 960 meter. Panjang rentangan utama melar 1 meter akibat Gempa bumi besar Hanshin 17 Januari 1995, padahal sewaktu dibangun panjangnya cuma 1990 meter. Menara jembatan tempat kabel-kabel diikat, tingginya 300 meter di atas permukaan laut.

Jembatan dirancang agar bisa bertahan dari gempa bumi hingga 8,5 skala Richter, derasnya arus laut di Selat Akashi, serta tiupan angin kencang hingga kecepatan angin maksimum 286 km/jam.
Total biaya pembangunan diperkirakan 5 miliar dolar AS yang diharapkan bisa balik modal dengan memberlakukan tarif tol yang mahal.

Jembatan Akashi-Kaikyoo mempunyai 2 buah taman untuk tujuan wisata yang letaknya berseberangan, satu di sisi Maiko dan satu lagi di sisi pulau Awaji.

Museum mengenai jembatan Akashi-Kaikyoo terdapat di taman yang terletak di sisi Maiko. Wisatawan dapat naik ke atas jembatan untuk menyaksikan pemandangan laut selat Akashi. Taman Maiko (bahasa Jepang:Maiko koo-en)dapat dicapai dengan kereta JR dan kereta Sanyo Dentetsu.

Serangkaian lampu dari tabung sinar katoda berwarna dasar merah, hijau, biru menghiasi kabel-kabel utama yang menahan jembatan Akashi-Kaikyoo. Desainer iluminasi bernama Ishii Motoko merancang warna-warni lampu pada kabel utama jembatan agar berubah-ubah sesuai jam, hari, dan musim. Warna lampu-lampu di hari biasa: hijau di musim semi, biru di musim panas, merah di musim gugur, dan kuning di musim dingin. Warna-warni pelangi ditampilkan satu jam sekali sebagai penunjuk waktu, sedangkan setiap setengah jam sekali ditampilkan warna-warni batu mulia. Gemerlapnya lampu-lampu jembatan dapat dinikmati sampai jam 12 tengah malam. Sekali setahun untuk memperingati Gempa Bumi Hanshin, setiap tanggal 17 Januari jembatan Akashi-Kaikyoo hanya menampilkan lampu-lampu berwarna putih tanda berduka.

[ add comment ] ( 17 views ) permalink ( 3.1 / 1291 )

<<First <Back | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | Next> Last>>